Walaupun pertempuran dengan Prabu Klanasewandana dengan pasukan Hindu
sudah berakhir dan telah dimenangkan oleh Kediri. Namun Sang Prabu
masih merasa sedih dan cemas. Beliau berpikir bahwa selama Dewi
Sekartaji belum bersuami pertempuran besar pasti akan terulang lagi. Hal
itupun dirasakan oleh Sang Resi Dewi Kilisuci. Maka beliau kemudian
menemui Sang Raja Jenggala, menyampaikan permasalahan yang dihadapi
adindanya Sang Raja Kediri. Sang Resi menyarankan bahwa untuk
menghindari permasalahan timbulnya peperangan lagi, maka Prabu Lembu
Hamilihur harus memaksa Raden Panji untuk dinikahkan dengan tunangannya
yang lama yaitu Dewi Sekartaji.
Namun Prabu Lembu Hamiluhur tidak sanggup merasa Raden Panji sudah bukan
miliknya sebab sudah diambil menantu oleh adindanya Raja Ngurawan. Di
samping itu juga takut kalau sampai mengkhianatinya lagi seperti
dahulu. Prabu Lembu Hamiluhur menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Resi
dalam hal membicarakannya, baik dengan yang bersangkutan yaitu Raden
Panji, maupun dengan mertuanya. Oleh karena itu lalu sang Resi segera
pergi ke Ngurawan untuk membicarakan hal tersebut.
Sesampainya di Ngurawan, ditemuinya Raja Ngurawan, sekalian dengan
Raden Panji Kudarawisrengga beserta istrinya. Sang Resi segera
menyampaikan maksud kedatangannya, seperti yang telah dibicarakannya
dengan Raja Jenggala. Sang Raja Ngurawan menyerahkan permasalahan
tersebut kepada sang menantu. Raden Panji pun bersedia asalkan istrinya
mengizinkan, serta bersedia dimadu. Ternyata sang istri yaitu Dewi
Surengrana mengizinkan. Oleh karena semua sudah bersedia dan sudah tidak
ada permasalahan lagi, maka sang Prabu Ngurawan segera membuat surat
untuk Raja Kediri yang isinya meminta Dewi Sekartaji untuk diambil
menantu, dijodohkan dengan tunangan lamanya yaitu Raden Panji
Kudarawisrengga.
Setelah Surat selesai dibuat segera memanggil dua orang menteri yaitu
Cungcung dan Calbung untuk menghaturkan surat tersebut kepada
kakandanya Sang Raja Kediri. Begitu menerima dan membaca surat lamaran
dari Ngurawan, Sang Prabu Kediri lalu minta persetujuan kepada putranya,
Raden Gunungsari. Pada mulanya Raden Gunungsari tidak setuju sebab
Raden Panji Kudarawisrengga sudah diambil menantu sendiri oleh sang
Paman Raja Ngurawan, dijodohkan dengan putri sulungnya yang bernama Dewi
Surengrana. Dengan begitu berarti kakandanya, yaitu Dewi Sekartaji akan
dimadu dengan saudaranya sendiri. Oleh karena itu Raden Gunungsari
merasa berkeberatan, sebab kasihan pada kakaknya. Akan tetapi Sang Prabu
mempunyai pandangan lain menurut beliau memang sudah menjadi kehendak
Dewa, bahwa Dewi Sekartaji itu memang sudah ditentukan menjadi jodoh
bagi Raden Panji Kudarawisrengga.
Oleh karena itu, apapun yang terjadi, walaupun harus dimadu dengan seratus putri, hanya Sekartaji yang akan mampu melahirkan putra mahkota. Dengan alasan tersebut Sang Prabu Kediri akan mengabulkan permintaan adindanya Sang Prabu Ngurawan untuk memberikan Dewi Sekartaji menjadi istri Raden Panji.
Oleh karena itu, apapun yang terjadi, walaupun harus dimadu dengan seratus putri, hanya Sekartaji yang akan mampu melahirkan putra mahkota. Dengan alasan tersebut Sang Prabu Kediri akan mengabulkan permintaan adindanya Sang Prabu Ngurawan untuk memberikan Dewi Sekartaji menjadi istri Raden Panji.
Sang Prabu kemudian memerintahkan kepada putranda Raden Gunungsari
untuk membuat surat balasan, serta Raden Gunungsari pula yang diutus
menyerahkannya ke Ngurawan. Raden Gunungsari pun sanggup dengan syarat
Dewi Honengan (putri bungsu Jenggala) akan dimintanya menjadi istri. Hal
itupun telah disanggupi oleh ayahandanya.
Raden Gunungsari berangkat ke Ngurawan dengan diiringkan oleh lima
orang abdinya yang sangat setia, yaitu: Ki Tisnapati, Wiranala,
Singabureng, Tirtayuda, dan Secareka. Sesampainya di Ngurawan, sang
paman sangatlah senang menerima balasan surat dari Kediri, terutama atas
terkabulnya permintaannya. Oleh karena itu Raden Gunungsari ditahan
untuk beberapa hari tinggal di Ngurawan, tidak boleh segera kembali ke
Kediri, melainkan nanti bersama-sama dengan pengiringan pengantin
laki-laki. Untuk sementara Raden Gunungsari beserta kelima abdinya
diminta beristrirahat di kepatihan. Sedangkan Sang Prabu Ngurawan
mengirimkan utusan ke Kediri lagi untuk meminta perintah kapan pengantin
laki-laki harus diiringkan ke Kediri.
Selama di Ngurawan, setiap sore Raden Gunungsari diajak berpesta
bersama seluruh keluarga Ngurawan sambil menikmati indahnya tari-tarian.
Adapun yang menari adalah para putri Ngurawan yang dipimpin oleh Dewi
Kumudaningrat. Raden Gunungsari sangat terpesona pada kemolekan Dewi
Kumudaningrat, sehingga segala geraknya senantiasa tidak lepas dari
perhatiannya. Namun Dewi Kumudaningrat tampak tidak menaruh perhatian
kepada Raden Gunungsari, melainkan perhatiannya sepenuhnya tercurah
kepada Raden Panji Sastramiruda. Maka Raden Gunungsari merasa bertepuk
sebelah tangan.
Pada suatu malam hasrat Raden Gunungsari pada Dewi Kumudaningrat
sudah tidak dapat dibendung lagi. Sehingga dengan diam-diam dia keluar
dari kepatihan ingin menemui Dewi Kumudaningrat di taman Keputrian.
Namun malang baginya. Begitu Raden Gunungsari masuk ke kamar tidur Dewi
Kumudaningrat, ternyata Raden Panji Sastramiruda sudah berada disana
sedang bercumbu dengan sang putri.
Sehingga mereka berdua lalu berkelahi, dan Raden Gunungsari terkena
senjata terluka di paha. Raden Gunungsari lalu melarikan diri kembali ke
kepatihan. Di sana beliau berjumpa dengan kelima abdinya yang
terheran-heran. Kemudian Raden Gunungsari menceritakan apa telah
terjadi. Atas nasehat para abdinya, Raden Gunungsari lalu melarikan diri
dari Ngurawan, sebab takut ketahuan oleh pamannya Sang Raja. Setelah
tiga hari tiga malam mereka berjalan, sampailah di sebuah hutan
belantara.
Di sana mereka sangatlah kelaparan. Tiba-tiba mereka melihat sebuah
gubuk yang berada di tepi hutan. Maka singgahlah mereka di gubug
tersebut. Namun oleh karena hari tengah malam, maka yang empunya rumah
sudah tidur. Kemudian dibangunkan oleh para abdi, dan diberi tahu bahwa
yang datang tersebut adalah Raden Gunungsari, putra raja Kediri. Sang
empunya rumah segera bangun dan tergopoh-gopoh menghaturkan sembah.
Raden Gunungsari berterus terang bahwa beliau beserta kelima abdinya
sangat kelaparan. Maka yang empunya rumah yang bernama Pak Sogol segera
menanak nasi untuk menjamu para tamunya. Setelah masak, nasi segera
disuguhkan, hanya dengan sebutir telur asin (kamal) serta sambal tanpa
terasi.
Mula-mula jamuan disuguhkan kepada Raden Gunungsari. Beliau hanya
makan sedikit. Selebihnya diberikan pada kelima abdinya, dan mereka
makan dengan lahapnya, sehingga kesemuanya habis seketika. Sesudahnya
Raden Gunungsari berniat akan segera melanjutkan perjalanan kembali ke
Kediri. Sebelum berangkat beliau berkata pada Pak Sogol, bahwa tempat
tersebut akan dinamakan Desa Kamal, dan Pak Sogol sendiri diganti nama
menjadi Ki Sugata. Hal tersebut sebagai tanda peringatan bahwa beliau
telah dijamu (disugata= Jawa) dengan lauk telur asin (telur
kamal). Beliau berjanji bahwa nanti setelah beliau kembali ke istana,
Raden Gunungsari akan membalas kebaikan Pak Sogol tersebut.
Sesudah berkata demikian, Raden Gunungsari lalu mengajak kelima
abdinya untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian Singabureng mengingatkan
bahwa Raden Gunungsari terluka karena tindakan yang memalukan. Sehingga
kalau ayahandanya mengetahui pasti akan marah, apalagi jika nanti
disusul dengan surat dari Ngurawan, yang menyatakan bahwa tuanku di
Ngurawan berbuat yang tidak baik. Pasti ayahanda Raja akan menjadi
semakin marah, karena merasa dipermalukan. Oleh karena itu maka Raden
Gunungsari lalu bertanya kepada Singabureng mengenai bagaimana yang
sebaiknya dilakukan.
Singabureng berkata, bahwa daripada kembali ke Kediri, lebih baik
bersembunyi dahulu di Gunung Wilis, sekalian mencari obat sambil mencari
berita mengenai kepergian tuan, bagaimana sikap ayahanda tuanku Raja
Ngurawan maupun Kediri. Hal itupun disetujui Raden Gunungsari, sehingga
mereka lalu meneruskan perjalanan menuju Gunung Wilis.
Sesampainya di Gunung Wilis mereka berjumpa dengan sang pendeta yang
bernama Wasi Curiganata. Raden Gunungsari bercerita dengan terus terang
mengenai apa yang telah terjadi, maka kepada sang Resi, disamping
mencari obat, juga ingin minta perlindungan.
Begitu mendengar cerita dari Raden Gunungsari sang resi segera memeluknya sambi! berkata: “Aduhai adikku, ketahuilah bahwa saya ini adalah kakakmu sendiri. Saya adalah Raden Nilaprabangsa putra Jenggala yang tertua”. Raden Nilaprabangsa lalu mengisahkan awal mulanya sehingga beliau menyamar sebagai pendeta di Gunung Wilis tersebut, yaitu bahwa mula-mula dipanggil oleh uwanda resi lalu disuruh menyingkirkan istri Raden Panji Kudarawisrengga yang pertama yang bernama Dewi Hangreni. Setelah berhasil membunuh Dewi Hangreni dia disarankan untuk bersembunyi di Gunung Wilis dengan menyamar sebagai seorang pendeta dengan nama Wasi Curiganata, sehingga dapat berjumpa dengan raden Gunungsari di tempat tersebut.
Begitu mendengar cerita dari Raden Gunungsari sang resi segera memeluknya sambi! berkata: “Aduhai adikku, ketahuilah bahwa saya ini adalah kakakmu sendiri. Saya adalah Raden Nilaprabangsa putra Jenggala yang tertua”. Raden Nilaprabangsa lalu mengisahkan awal mulanya sehingga beliau menyamar sebagai pendeta di Gunung Wilis tersebut, yaitu bahwa mula-mula dipanggil oleh uwanda resi lalu disuruh menyingkirkan istri Raden Panji Kudarawisrengga yang pertama yang bernama Dewi Hangreni. Setelah berhasil membunuh Dewi Hangreni dia disarankan untuk bersembunyi di Gunung Wilis dengan menyamar sebagai seorang pendeta dengan nama Wasi Curiganata, sehingga dapat berjumpa dengan raden Gunungsari di tempat tersebut.
Raden Nilaprabangsa menyarankan, bahwa untuk sementara waktu Raden
Gunungsari tinggal di Gunung Wilis dahulu menunggu sembuhnya luka.
Sedangkan kembalinya ke Kediri besok bersama-sama dengan iring-iringan
pengantin dari Ngurawan. Raden Gunungsari tidak membantah, sehingga
selama beberapa hari tinggal di tempat tersebut bersama dengan kelima
orang abdinya.
Hari yang telah ditentukan untuk pengiringan pengantin pun telah
tiba. Namun Sang Prabu Jenggala yaitu ayahanda sang pengantin laki-laki
tidak berkenan hadir, melainkan hanya memberi doa restu. Oleh beliau,
Raden Panji Kudarawisrengga diberi sebutan Raden Panji Klana Jayakusuma,
juga disebut Raden Panji Hasmarabangun. Maksudnya Raden Panji telah
dapat mengalahkan Prabu Klana, kemudian membangun parkawinan dengan
tunangan lama.
Setelah Raden Panji Kudarawisrengga dipertemukan dengan Dewi
Sekartaji, untuk sementara waktu Sang Maharesi Rara Dewi Kilisuci tetap
tinggal di Kediri, bertempat tinggal di padepokan Gua Selamangleng,
yaitu di Desa Kandairen. Begitu juga Dewi Surengrana dan raden Panji
Sastramiruda juga ikut tinggal di Kediri serta Raden Gunungsari jadi
memperistri Dewi Honengan. Raden Gunungsari kemudian memberi hadiah
kepada kelima orang abdinya yang telah dengan setia mendampinginya,
masing-masing sebuah desa. Yaitu Desa Tisnapaten untuk Ki Tisnapati Desa Wiranalan untuk Ki Wiranala, Desa Burengan untuk Ki Singabureng, Desa Tirtayudan untuk Ki Tirtayuda, serta Desa Secarekan untuk Ki Secareka.
Tidak lama kemudian Raden Panji Kudarawisrengga dipanggil kembali ke
Jenggala untuk diangkat menjadi raja menggantikan ayahandanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar